CUPLIKAN INSPIRASI

In this page, you will get any advices that can remember your live periodically

  1. Hal yang seringkali tidak dirasa, bahwa sebenarnya sedikit saja keputusan individu kita itu begitu mempengaruhi keseimbangan global ‘takdir’ kehidupan.
  2. Hidup itu simpel. Ambillah keputusan dan jangan sampai kau menyesalinya!.
  3. Bila ada dua insan yang saling mencinta, wanitanya membutuhkan kepastian dan pasangannya pasti membutuhkan kepercayaan.
  4. Seorang temanku berkata-kata: “Cinta itu buta. Saya rasa tidak ada orang yang benar-benar mengerti pasangannya.” Langsung saja ku berkomentar kepadanya: “Jika kau mencari orang yang diharapkan untuk selalu mengerti kamu, maka itu memang jarang bahkan mungkin tak ada. Tapi bila kau ingin mencari orang yang agar kau mengerti ia, maka ada banyak dan kau bisa mendapati mereka bersamaku.”
  5. Salah pilih tukang cukur, menyesal satu bulan. Salah pilih pasangan hidup, menyesal di dunia. Salah pilih agama, menyesal dunia akhirat.
  6. Orang yang Pesimis berkata: “Wahai Tuhan!Aku punya masalah yang besar”. Tapi orang yang selalu optimis berkata: Hai masalah-masalah! Aku punya Tuhan yang Maha Besar. (Komaruddin Hidayat)
  7. Sungguh, jangan kau paksa Tuhan!!! Ia lebih pandai dari kalian.
  8. Tak usahlah kau mencari-cari perihal prilaku orang lain. Cukuplah kau perhatikan temannya!! Karena sesungguhnya tiap orang itu tentulah menurutkan teman. (Terdapat dalam kitab “Alâlâ”)
  9. Sebodoh-bodohnya manusia ialah orang yang meninggalkan keyakinan yang ada pada diri sendiri demi mengikuti prasangka pada orang lain.
  10. Syekh Sa’ad al-Attas pernah berkata: “yang dinamakan taqwa itu bukan hanya menjalankan perintah dan menjauhi larangan, tapi juga diikuti kekhusyu’an dan rasa takut. Bukan takut pada Allah, tapi takut dari murka-Nya. Hal inilah yang hilang pada saat-saat sekarang ini.

11.  Ada hal yang perlu diingat bagimu agar tidak sombong, yaitu banyak orang yang sama denganmu bahkan yang lebih hebat darimu. Hanya saja terkadang orang-orang tersebut lebih memilih diam daripada banyak berkata-kata sepertimu.

12.  Bila anda menginginkan kebenaran, maka tanggalkanlah kepercayaan. Bila menginginkan percayaan, maka sertailah dengan kebenaran, karena benar tak perlu percaya dan kepercayaan perlu pembenaran.

13.  Asumsiku itu, bahwa penyesatan bisa dilakukan dimana saja, yang menyebabkan ulama-ulama terdahulu menawarkan taqlid. Sifat-sifat mereka—belas kasih, peduli sesama—hingga menjadikan rasa takut dalam dirinya menjadi besar.

14.  Kenapa ulama dahulu—seperti imam Suyuthi—membakar karangannya, adalah salah satu alasan beliau khawatir kalau sampai beberapa hasil karangan tersebut malah menyesatkan umat. Sungguh, berbicara mengenai iman pastilah hal tersebut wajib dicoba adanya. Bila iman semakin kuat, maka cobaan semakin berat pula hingga ke akar-akarnya. Maka dari itu seakan sudah wajiblah seseorang atau sebuah lembaga pendidikan pada zaman sekarang—yang mana sudah banyak terungkap berbagai kenyataan hidup dengan ditemukannya berbagai hasil ilmu pengetahuan dan teknologi—memasukkan filsafat dalam mata pelajarannya.

15.  Kebiasaan selanjutnya yang dilakukan oleh ulama terdahulu, kebanyakan dari mereka akhirnya membicarakan tentang berbagai keutamaan saja.

16.  Bila dibicarakan tentang keutamaan, maka risiko yang biasanya terjadi pada diri pembacanya hanya ingin keutamaan tersebut saja, bukan juga ingin untuk mencari ridla tuhannya. Di sinilah kiranya betapa penting sebuah proses dalam mencari hasil tersebut.

17.  Tahukah anda apa keinginan Tuhan, kenapa Ia repot-repot membuat syari’at? Aku tak tahu, makanya aku hanya bisa pasrah.

18.  Saat kita mengajukan pertanyaan—terlebih kepada seorang anak kecil—sering kali kita menganggap jawaban yang diberikan orang lain sebagai ‘salah’. Kita lupa bahwa mereka hanya menjawab pertanyaan yang berbeda dan jawaban yang mereka berikan kepadamu adalah jawaban yang benar untuk pertanyaan yang berbeda, tanggung jawab kita adalah menemukan pertanyaan apa yang dijawab dengan benar olehnya.

19.  Kita harus menghargai apa yang diketahui orang lain, sama halnya dengan apa yang kita inginkan untuk diketahui orang tersebut.

20.  Kita perlu berusaha memahami peranan fantasi dan perasaan dalam ‘mendidik’.

21.  Semakin banyaknya dunia formalitas dengan hanya menekankan rasionalitas dan logika, budaya kita telah mendefinisikan pembelajaran dan kecerdasan dengan cara yang amat terbatas.

22.  Marilah kita tinggalkan pengibaratan pikiran-otot dan pikiran-lemari-arsip yang sempat berjaya selama beberapa dasawarsa lalu, atau pikiran-papan-sirkuit, apalagi sebagai computer merupakan metaphor cacat.

23.  Kita harus menyadari bahwa otak-pikiran berfungsi lebih sebagai suatu pusaran yang bergema, dapat mengubah diri sendiri, holografis, dan selalu berkembang dalam rancangan alam semesta yang terbuka.

24.  Kerja pikiran penuh kerja pikiran sebagai bagian dari rancangan besar, yaitu rancangan yang dibentuk oleh evolusi berjuta-juta tahun. Pemikiran rasional merupakan berkah dari perjalanan itu, tapi demikian pula wawasan, intuisi, dan pemahaman spontan.

25.  Aspek-aspek kerja pikiran pernah dianggap unik, langka, atau bahkan menyimpang.

26.  Akal ada berkat dimensi pikiran yang mistis dan hayali, yang ada dalam lingkup estetika di luar parameter logika.

27.  Kita memiliki semacam kemuliaan pikiran dalam kerja pikiran. Kita dapat menjadi lebih aktif dan ahli jika kita secara sengaja menghormati kemampuan dan potensi kita sendiri dan orang lain.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.