Kenalan Yo

Foto017Bebas, mungkin itu merupakan bagian hidupku. Ga tau kapan dimulai dan kapan akan berakhir. Bila saya mengingat mundur ke belakang pun akuĀ  terlupa kapan pastinya saya mulai bebas hingga tak punya arah tujuan, tak berpegangan, hingga merasa tak bertuhan. Sesekali diri ini teringat masa kecil yang bisa dibilang lahir dalam dunia penuh tata aturan, kepatuhan (ataupun saya ga tau apakah hal tersebut sebenarnya merupakan pemaksaan), dan skeptisitas tanpa boleh bereksplorasi apalagi berkreasi.

Ah sudahlah,,!!!!! mungkin itu juga hanya sekedar perasaan saya saja yang bisa jadi dalam dunia nyata masa-masa itu malahan kebalikan dari apa yang saya rasakan.

Orang tuaku memberi nama cukup panjang–mitosnya sih akan menjadi anak yang cerdas setelah dewasa–, Abdul Hasan Mughni lengkapnya. Semasa kecil, memang terdapat harapan semoga mitos tersebut dapat terwujud, lambat laun sering kali terbersit dengan ketidakinginan akan keberadaannya. Ternyata jadi orang tahu sungguh susah, bagaimana tidak? aku dilarang mencuri, aku dilarang bohong, memperkosa, mencaci-maki, makan anjing, minum minuman keras, berjudi, taruhan, zina, malas-malasan, mengadu domba, menghina, menggunjing, gosip, prasangka buruk, yang notabene kesemuanya itu adalah kesenangan dan bahkan menjadi keseharianku. Apalagi setelah aku menjadi mengerti bahwa diri ini dituntut kerja keras, sabar, tawakal, pemaaf, toleran, mau bersyukur, mau menerima undangan, harus selalu ibadah, tahan uji, progresif, optimis, atau apa lagi lah yang sungguh sangat sangat berat untuk kujalani. Siapakah yang dapat menuntunku, berkenanlah tuntun aku karena aku yakin pertolonganmu sungguh amat membantuku. Aku telah lelah hingga jasad ini sering kali merasakan sakit yang mencabik. Aku telah letih, hingga semangatku tak bisa lekas pulih. Aku sangat lemah, dan ku yakin pertolonganmu amatlah menggugah.

7 tanggapan untuk posting ini.

    • Posted by ahamughny on Agustus 27, 2009 at 16:41

      oke…..saya dah kunjungi dan baca2
      sy juga pengin ikut2 kajian, kalo yang dekat2 lokasinya ma jakarta selatan ato ciputat ada ga?
      sebelumnya terima kasih

      Balas

  1. Posted by amin on Desember 26, 2009 at 23:27

    setelah saya membaca artikel antum, memang menarik pokok bahasan yang antum suguhkan, yang lebih tertarik lagi antum adalah mahasiswa fakultas ushuluddin, yang kiranya tak jauh dari pemikiran islam, tapi setelah saya baca dalam forum kenalan yo, anda mengatakan bahwa kebebasan adalh bagian hidupmu, namun saya rasa bebas adalh bagian dari semua orang, bukan cuma antum.
    terus yang ingin saya tanyakan, sebenarnya masalah apa yang antum ketahui tetang tuhan, sehingga antum menyatakan kadang kala antum tidak bertuhan?
    Salam kenal, amin

    Balas

    • Posted by ahamughny on Januari 1, 2010 at 11:35

      trims,
      usuluddin maksudnya….sy lbh tertarik lagi kalo sampean jg ikut nambahin usul atau kritik

      Balas

    • Posted by ahamughny on Januari 18, 2010 at 15:46

      ya……suatu waktu saya berpikir, sekedar muhasabah.
      dalam pikirku bebasku dulu mungkin bisa dkatakan teramat bebas, saya merasa tak punya rumah, tak punya famili, tak punya pemerhati, tak punya orang tua, tak pmya teman, hingga tak punya Tuhan……..bahkan diri sendiri pun dulu kuanggap sebagai ilusi, saya sendiri itu bingung apa yang saya punya.
      sempat terlintas dalam pikirku manakah hakekat yang wujud di dunia ini.
      teringat pula di waktu kecil saat usia sekitar kelas 5 SD, saat itu ada orang gila berjalan melewatiku dan teman-temanku, lantas ku dan teman-teman mencaci orang gila tersebut, seketika itu si gila malah tertawa dan kulihat ia menertawai tingkah kami. anganku berpikir “apakah orang gila ini yang benar2 waras dan hidup dalam dunia sebenarnya hingga ia menertawaiku karena mungkin anggapan ia akulah orang yang sebenarnya gila karena melihat segala tingkahku”seketika itu saya terdiam.
      Hingga remaja saya semakin bingung, saya mencoba memahami kehidupan ini, mencoba juga memahami apa yang dirasakan orang lain. ternyata penilaian tiap orang tuh berbeda satu sama lain, wanita hidup dalam dunia kewanitaannya begitupun pria, begitupun golongan kaya, golongan miskin, kaum pinggiran, kaum perkotaan, narapidana, polisi, dan semuanya termasuk juga golongan beragama.itulah eksistensi kehidupan.
      setlah memahaminya saya coba menghilangkan dunia agama, saya anggap agama itu tidak ada karena itu hanya ilusi saja sehingga bila seandainya sugesti itu tak saya percayai maka ia akan hilang dengan sendirinya. saya mulai tak percaya Tuhan, kenapa seandainya Tuhan itu ada masih saja ada perbedaan ras? yang tentu di dalamnya penuh ketidak adilan.. kenapa dari dulu saya solat tapi tidak juga menemukan kebahagiaan? lantas apa manfaatnya saya mesti repot2 ruku, sujud, dan mengangkat tangan sambil mengucap takbir….kenapa Tuhan menurunkan kitab segala sebagai petunjuk? tidak lantas langsung saja menunjukkan diri jika memang Ia itu Berkuasa.. kenapa juga dan kenapa?
      saat itu saya hampir2 telah mencoba melakukan segala apa yang telah dilakukan berbagai orang dan berbagai kalangan… tapi akhirnya saya tersadar, mengakui bahwa pandangan seperti itu a/ salah dan sungguh!!!!, benar2 ku tak mampu untuk melakukan segalanya dan semoga kini meskipun aku adalah makhluk bebas, namun bebasku adalah bebas yang berasaskan Dzat Yang Tiada Semisal bagi-Nya.

      Balas

  2. cukup menarik untuk dibaca tp tolonglah kasih informasi yg up to date

    Balas

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.