Alhamdu lillah, segala puji bagi Allah. Tuhan sekalian alam; Tuhan segala hal; Tiada kekuatan pun kecuali atas kehendak-Nya; Yang telah memberikan taufiq-Nya bagi penulis untuk merampungkan skripsi ribet ini; Yang mendorong Kajur seakan ngerjain penulis dengan menolak proposal hingga harus keempat kalinya; Yang mendorong mata penulis tertuju untuk membeli buku merah berjudul Ijtihad Islam Liberal; Yang mempertemukan penulis dengan dosen pembimbing setelah sempat hampir satu bulan tidak bisa bertemu; Yang selalu ‘menguji’ hambanya dengan ‘masalah-masalah’ sakit, kurang dana, jauhnya jarak, dan sebagainya. Oh, sungguh tiada sekutu satu pun bagi-Mu.
Engkaulah pencipta akal serta segala hal yang membingungkan dan meyakinkannya. Engkaulah pencipta manusia dengan segala tafsiran dan ide-ide kreatifnya. Engkaulah pencipta setan dengan segala pembangkangannya. Engkaulah pencipta dunia dengan segala tempat dan waktu yang melingkupinya.
Solawat serta salam tetap tersanjungkan pada insan paling agung sepanjang zaman, Muhammad Saw. Karena ia, dunia ini ada. Berkat dia, nikmat Islam dan wahyu mampu dirasakan manusia setelahnya. Tak terbayangkan bila harus ada dunia tanpamu karena tiada seorang pun yang akan mampu menyampai dan memberi syafa’at tetapnya ajaran ini hingga hari akhir kecuali engkau, tanpamu, tanpa keluargamu, tanpa sahabatmu, semuanya. Terima kasihku bagimu sekalian.
Penulis begitu berterima kasih pula bagi para guru yang telah sudi mendidik dan mendoakanku. Mbah Muntaha Wonosobo, Abah Ilyas Bogor. Pengajaran kalian semoga bisa penulis lanjutkan.
Juga pada para dosen dan guru-guru di sekolah formalku, yang selama bertahun-tahun dengan sabar memberi waktu mereka demi memberikan sejumlah wacana keislaman, keuniversalan, sosial, dan aqidah. Kepada Bu Faizah yang selalu berupaya dengan ketulusan hati membimbing dan mewarnai pembentukkan skripsi ini di sela-sela kesibukannya, Pak Eva yang sempat membuka secuil celah permasalahan, bagi Pak Yusuf sebagai dosen yang menguji dan memberi tambahan opini dan bagi para dosen lain, nama kalian tak bisa ku tuliskan satu-satu.
Terima kasih pula bagi kedua orang tua penulis. Meski dulu terkadang rasa benci menyelimuti penulis, namun semuanya telah aku sesalkan. Kalian mendidikku dengan pengajaran yang ternyata begitu aku kagumkan. Kerelaan kalianlah kerelaan Tuhan. Semoga anakmu ini mampu menjadi cita-cita kalian.
Terima kasih dan permintaan maaf penulis sampaikan pula bagi mbahku, terkhusus Mbah Jidah, yang mana penulis sempat hidup bersamanya, dengan fakta masa lalu yang kini telah banyak dianggap sebagai dongeng kuno; dengan cerita-cerita Belandanya; dengan kisah Ratu Hernianya, kisah-kisah perjuangan dulu yang juga telah membentukku. Maafku untukmu tak bisa melihat senyum merah mu—senyum ketulusan dari sebuah mulut tua karena nginang—dengan mempersembahkan wisuda pada semester kelima. Tapi di sisi-Nya ku yakin engkau sedang melirikku. Kau telah kembali mendahuluiku pada Pemilikmu. Yang Ia juga Pemilikku.
Terima kasih buat para teman-teman TH-A 2005 yang militant dan berdaya juang tinggi; teman-teman SMA yang dengan sabar mendukungku; teman-teman SMP yang hingga sekarang pun masih banyak setia denganku.
Sahal! Sudah tak membebanikah kau bagi orang-orang di sekitarmu?; Ubay! Telah bermanfaatkah ilmu Ushuluddinmu?; Aqib… aku akeh salah kalih njenengan, tapi jngan sampe donga sing elek nggo aku yo; Maksal… buruan kejar nilaimu! Tidak kasihankah kau pada wanita setulus Susi yang senantiasa sabar membimbingmu?; Omen… gaulilah sekelilingmu! Mereka juga butuh kehangatan dermamu; Ummu… ah! Aku pun sudah tak tahu mesti bilang apa untuk memotivasimu; Ratih… tak perlu lah! Jutaan perubahan menghadang di dunia luar; Hendri! Makasih sudi menemaniku wisuda; Ismail! Salutku padamu yang tak peduli nilai formal demi estetika keindahan; Aini! Semoga langgeng bersama Ipin, ia teman baik bagiku juga; Apis! Entah kenapa ku teringat Raju Rastogi dalam 3 Idiots bila melihatmu. Selamat! Kau telah menjadi juara MTQ nasional sekarang; Riski! Silahkan nikmati raisonalitasmu hingga kau menganggap penting artinya sebuah tindakan; Agus! Teruskanlah tindakanmu hingga bisa menikmatkannya pada kenyataan; Izu! Aku sudah tak bisa berkata-kata lagi bila berhadapan denganmu; Izi! Maafkan aku bila punya salah ya!; Mbak Fai! Aku salut padamu; Vina! Pesan namamu tanpa ‘A’ ya! Teman-teman ku semua yang tak sanggup ku sebut satu per satu.
Semuanya! Kuharap kalian terima rasa kasihku ini, semoga tulisan ini mampu menjadi wasilah rasa banggaku pada kalian, yang telah membantuku sedemikian, sebagai aku, Abdul Hasan Mughni. Sungguh, tak ada salah satu dari kalian, maka tak ada aku seperti sekarang. Sekali lagi, maaf dan terima kasih pada semuanya, berkat perantara kalian semua, insya Allah, diri ini masih diliputi cinta-Nya. Segala puji bagi Tuhan Semesta, Yang Maha Pengasih dan Penyayang, Yang Merajai hari pembalasan.

Posted by hafidz on Oktober 25, 2010 at 07:13
rinduku padamu
Posted by ahamughny on Oktober 26, 2010 at 05:54
hidiiiiiiih!!!!! ywdah sama2 dh
betapa hati rindu…
pada dirimu…
duhai kekasihku!!!
Posted by Rampok on April 16, 2011 at 15:47
mampir lewat kang >>