Liyasyhadu manâfi’a lahum wa yazkurû isma allah fî ayyâmin ma’lûmât ‘alâ mâ rozaqhum min bahîmat al-an’âm
Sebulan sudah gemerlap Piala Dunia 2010 berlangsung. Seperti biasa, gelaran empat tahunan yang cukup menarik perhatia tersebut menjadi pusat perhatian hamper seluruh insane di berbagai pejuru negeri, tak terkecuali di Indonesia. Acara tersebut bagaikan kongres akbar pemersatu lintas bangsa. Pada hari-hari awal penyelenggaraannya, terlihat di hadapan penlis yang sedang melintasi jalanan kota Jakarta, mulai dari Ciputat—Pasar Rebo—Kp. Rambutan hingga Cikarang sebuah pemandangan yang cukup memberikan image positive bagi penulis. Sebuah pemandangan yang tampak lain dari pada hari-hari sebelmnya. Bila biasanya, penulis melihat wajah suram para karyawan pabrik ataupun buruh pasar, pada saat itu muka-muka mereka tampak bahagia. Sejenak berpikir, penulis rasa mereka bersatu-padu menunggu pertandingan yang akan digelar pada malam harinya.
Sampai di tujuan sekitar jam 8 malam ternyata benar. Segala jenis pamphlet dan slogan yang menawarkan acara nonton bareng di beberapa swalayan dan café persis sama dengan apa yang penulis lihat di kota Cikarang. Di tengah taman sebuah Indomaret, di situ pun terlihat sebuah layer lebar yang dikelilingi puluhan penonton. Pertandingan pembuka pun digelar. Bila dipikir lebih lanjut, memang dari dahulu sejak Inggris memproklamirkan diri sebagai Negara penemu olahraga tersebut, sepak bola hanya sekedar permainan demi memperbanyak pengusahaan menceploskan bola ke gawang lawan, dengan satu bola dan sebelas pemain, ada dua buah gawang dan tiga orang wasit. Namun dengan segala keunikannya, penonton cuma selalu menunggu hal-hal baru, diantaranya tim manakah yang kali ini jadi juara, siapa yang menjebol jala lawan, dari sudut mana bola tersebut bias berbuah skor, dan seperti menit-menit krusial kapan saja ratusan hingga ribuan orang menjadi menangis histeris dan tertawa girang. Pada perhelaan Piala Dunia kali ini pun telah muncul hal baru tersebut sebagai sejarah, dimana dari awal sejarah dimulainya Piala Dunia sejak 1930, sang tuan rumah pasti lolos ke babak knock-out, namun kali inim Afsel sebagai tuan rumah harus dipaksa mengakui kehebatan Uruguay dan Mexico. Selain itu, sejarah mencatat muncul Negara baru, yaitu Spanyol sebagai juara dunia. Bisa dibilang, Piala Dunia merupakan kongres terbesar di dunia.
Dalam dunia Islam, kongres akbar sendiri terimplementasikan dalam ritual ibadah haji. Hikmah haji sendiri antara lain selain sebagai perdagangan bagi para jamaah dan masyarakat Arab, adalah sebagai pertemuan sesama umat muslim terbesar sekali dalam satu tahun.
Sebagaimana ayat tersebut yang telah dikutip di atas, hal yang paling mendasar bagi penulis sebagai manfa’at haji bukan pada perdagangan, namun pada persatuan umat sedunia yang harus tunduk taat agar terjadi penyatuan sifat-sifat kemanusiaan dengan sifat-sifat ketuhanan.
Al-Husain bin Mansûr al-Hallaj pernah berkata: al-Qidam hanyalah bagi-Nya. Segala yang fisikal adalah penampilan-Nya, yang tampak bendawi menetapkan-Nya, yang piranti mengintegrasikan-Nya kekuatannya berada di genggaman-Nya. Hal-hal yang tersusun waktu, waktulah yang memisahkannya. Dan yang ditegakkan oleh selain-Nya, maka bencanalah yang menyentuhnya.
Bila mengaitkannya dengan persatuan, dari statement kata-kata terakhir di atas dari tokoh Islam al-Hallaj tersebut mengidikasikan bahwa niatan baik pun seperti persatuan antar umat berbagai bangsa dan agama bila tak ditegakkan atas dasar lillahi ta’âlâ, maka akan musnah dan sia-sia.
Sepak bola memang menjanjikan persatuan, tapi bila niat hanya li Argentina atau li Jerman saja, maka bila tim yang dibela tadi kalah pastilah pendukungnya akan merasa terpukul, sedih bukan kepalang, bahkan bias berimbas yang tadinya supporter bersatu padu duduk pada tempat yang sama menjadi terpisah, bertengkar, dan bentrok satu sama lain.
Suatu contoh lain adalah hubungan sepasang kekasih. Bila ada salah satu atau kedua orang yang saling mencintai karena suatu kelebihan seperti kecantikan atau kepandaian orang lain, maka persatuan yang mungkin pada mulanya bias menyatu akan terjadi konflik dan bahkan timbul perpecahan. Hal-hal diatas dikarenakan cantik, pandai, Argentina, Jerman, lelaki, dan wanita adalah makhluk yang pastinya kan fana’, sedangkan Allah dipercaya sebagai Dzat yang Wujud dan selanjutnya, setiap makhluk diibaratkan berasal dari-Nya dank an kembali kepada-Nya.
Penulis menganalogikan bahwa hubungan Tuhan dan makhluk itu bagaikan tubuh dan sel-sel pembentuknya. Tuhan diibaratkan sebagai tubuh atau organ yang sempurna, sedangkan individu-individu makhluk bagaikan sel-sel yang diharuskan menyatu untuk menjadi Tuhan atau organ tubuh. Bila ada satu atau beberapa sel tadi menginginkan keluar dari sifat selain-Nya, maka sel tadi tidak akan mampu menjadi organ. Orang yang menginginkan untuk menuruti hawa nafsu pasti hancur, orang yang mengikuti otak atau akal saja paastilah gila. Manusia yang ingin hidup terus pasti kan dipaksa mati, dan mayat yang telah mati dalam keadaan kufur pun pasti kan dicuci di neraka, telaga Kautsar dan baru ke surga agar semuanya kembali kepada Dzat yang Suci, Yang Muhît, Yang Samad.
Sebagaimana ritual-ritual ibadah Islam lain, sebenarnya haji juga mengajarkan individu-individu jamaah haji agar mereka merasakan dalam persatuan dan kesatuan pada sesamanya serta ketundukan dan penyatuan pada Ilahnya sebelum mereka meninggal dunia. Namun sebagaimana ibadah-ibadah yang lainnya pula, terkadang haji pun dicampuri unsur-unsur niatan kemanusiaan, baik niatan ketenaran, pembohongan terhadap public, atau niatan-niatan lain yang begitu samar seperti niat saya bias naik haji, padahal sebenarnya yang memberinya nikmat bias berhaji adalah bukan diri individu makhluk itu sendiri karena sesungguhnya nikmat itu adlah karena semata-mata dipaksa Tuhan namun mereka tak merasakan.
Pada era 80-an, seorang tokoh NU, masdar Farid Mas’udi, pernah melontarkan gagasannya bahwa haji bias dilaksanakan dalam 3 bulan, dalam artian …………….. pernyataan yang harusnya mengemuka adalah apakah gagasan tadi lillahi ta’ala atau berasal dari nafsu kemanusiaan belaka. Bila lillahi ta’alâ, maka lakukanlah bahkan sah-sah saja bila barangkali ada seorang yang ingin mencetak sejarah baru dengan menyediakan layer lebar bergambar Ka’bah, padang Arafah di tengah taman di depan Indomaret sengan niatan berhaji asalkan individu tadi mampu niatanlillahi ta’âlâ. Hal tersebut tentu lebih ringanlah biayanya dan ibadah haji akan memecahkan rekor sebagai kongres akbar terbesar di dunia mengalahkan Piala Dunia.
Benang merah bagi penulis sebagaimana haji dari dahulu adalah pekerjaan yang sama, permasalahannya adalah sepak bola, tiap-tiap momennya ada hal yang mampu menyatukan, tapi karena terdapat nafsu kecintaan selain-Nya, ia jadi binasa. Haji pun bila memang dilaksanakan pada waktu yang sama, urutan prosesi rukun dan syaratnya sama, namun bila niatannya adalah selain-Nya, pasti jama’ah yang meninggal kan mati sia-sia karena individu tadi telah menjadikan Tuhan sebagai Dzat yang telah dikebiri, tiada rasa ketuhanan pada diri, seakan hilang dan bila dibiarkan pasti matilah hati nurani.
