Analisis Ayat-ayat Takdir dalam Semiotik Saussure

Semiotika atau semiologi, dua istilah ini mempunyai arti sama saja, hanya saja perbedaan penggunaannya menunjukkan aliran ilmu yang diikuti, secara sangat sederhana adalah sebuah ilmu yang mempelajari tentang tanda dan sistem tanda yang eksis baik secara eksplisit maupun samar-samar melalui cara-caranya yang implisit, baik dalam realitas dalam masyarakat maupun melalui sistem-sistem yang membentuk masyarakat itu, misalnya saja media.

Semiotik berhubungan erat dengan hermeneutik, semiotik dan hermeneutik merupakan proses menerangkan atau menginterpretasikan. Perbedaannya adalah kalau semiotik lebih menjelaskan pada proses ontologi, sedangkan hermeneutik lebih kepada aspek epistemologi. Pada pembahasan ini, penulis ingin mencoba menginterpretasikan ayat-ayat yang masih berkaitan dengan takdir, khususnya yang tertulis dalam QS. al-Zumar: 67, surat al-Hajj: 74, surat al-An’am ayat 91, surat al-Mursalat: 23, dan surat al-Fajr: 16 dilihat dari perspektif semiotik Saussure.

Secara umum, diakui bahwa bapak semiotika ada dua orang. Ferdinand de Sausurre yang menggunakan istilah semiologi dalam tulisan-tulisannya, dan Charles Sanders Pierce yang menggunakan istilah semiotika. Selanjutnya, dari keduanya muncul Roland Barthes yang terinspirasi untuk melengkapi jenis-jenis pemaknaan terhadap tanda.

Faktor konteks waktu dan tempat—Sausurre lahir dan besar di Prancis, sedangkan Pierce lahir di Inggris dan besar di Amerika Serikat—yang mungkin menjadikan perbedaan cukup signifikan pada pemikiran dan objek kajian mereka dari awal (dalam bahasa langue parole). Kalau Sausurre mengejar languenya sedangkan Pierce mengejar parolenya.

Dalam semiotik Saussure, tanda atau sign itu terdiri dari 2 bagian besar penanda (signifier, expression) dan petanda (signified/concept, content). Penanda adalah apa yang digunakan untuk merepresentasikan tanda, sedangkan petanda adalah makna yang direpresentasikan oleh tanda itu. Seperti contoh, bila di jalan raya ada rambu yang bergambar huruf S dan disilang, berarti rambu tersebut merupakan penanda yang menunjukkan makna dilarang berhenti. Sedangkan maksud dari tanda tersebut—tidak berhenti di sekitar jalan tadi—merupakan petanda.

Adapun berkaitan dengan ayat-ayat takdir—terdapat kalimat yang terdiri dari tiga huruf pokok, qaf, dal, dan ra—yang banyak disebutkan dalam al-Qur’an pada kajian ini, penulis ada kalanya menjadikan takdir sebagai penandanya untuk mencari apakah sebenarnya definisi atau maknanya—bukan bermaksud sebagai hasil final, karena tentunya mempersempit maknanya sendiri—dan adakalanya menjadikannya sebagai petanda untuk menyebutkan hal-hal apa saja yang termasuk bagian dari takdir.

1). Surah Al-Zumar ayat 67,

وما قدروا الله حقّ قدره والأرض جميعا قَبضَتُه يَوم القِيامة والسماوات مَطوِيَّات بِيَمينِه سُبحانه وتَعالى عَمّا يُشرِكون

Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya[1]. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi dia dari apa yang mereka persekutukan.

Pada ayat di atas, petanda masalah takdir adalah segala sesuatu yang ada pada bumi itu ada pada kekuasaan Allah, dan orang yang musyrik (menyekutukan-Nya), merupakan penanda bahwa ia menolak takdir.

2). Surat Al-Hajj ayat 74,

ما قدروا الله حقّ قَدره إنّ الله لَقَوِيٌّ عَزيزٌ

Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.

Allah benar-benar Maha Kuat lagi perkasa sebagai penanda bahwa Dialah yang menguasai Takdir.

3). Surat al-An’am   ayat 91,

وما قَدَروا الله حَقّ قَدره إذ قالُوا ما أنزلَ الله على بَشَرٍ مِن شَيء قُل مَن أنزل الكِتاب الذى جاء بِه موسى نُورا وهُدًى للنّاس تَجعلونه قراطِيس تُبدونَها وتُخفون كَثِيرا وعُلِّمتُم ما لم تعلموا أنتُم ولا ءاباؤكُم قل الله ثُمّ ذَرهُم فى خَوضِهم يَلعَبون

Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya, di kala mereka berkata: “Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada manusia”. Katakanlah: “Siapakah yang menurunkan Kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan Kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu perlihatkan (sebahagiannya) dan kamu sembunyikan sebahagian besarnya, padahal Telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengetahui(nya) ?” Katakanlah: “Allah-lah (yang menurunkannya)”, Kemudian (sesudah kamu menyampaikan Al Quran kepada mereka), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya[2].

Penanda-penanda tentang tidak mempercayai takdir pada ayat ini antara lain: tidak menghormati Allah dengan semestinya, seperti berkata: “Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada manusia”; dan juga merasa enak dalam kesesatannya.

4). Surat Al-Mursalat ayat 23,

فَقَدَرنا فَنِعم القادِرون

Lalu kami tentukan (bentuknya), Maka Kami-lah sebaik-baik yang menentukan.

Menentukan kadar (bentuk), merupakan penanda takdir Allah.

5). Surat Al-Fajr ayat 16,

وَأمّا إذا ما ابتلاه فَقَدَرَ عَلَيه رِزقَه فَيَقُول رَبّى أهانَنِ

Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya Maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku.”

Penanda seseorang tidak menerima takdir adalah mengatakan “Tuhanku menghinaku”, serta orang-orang yang mengatakan bahwa kekayaan itu adalah suatu kemuliaan dan kemiskinan adalah suatu kehinaan seperti yang tersebut pada ayat 15 dan 16. tetapi Sebenarnya kekayaan dan kemiskinan adalah ujian dan takdir Tuhan bagi hamba-hamba-Nya.


[1] Ayat ini menggambarkan kebesaran dan kekuasaan Allah dan Hanya Dialah yang berkuasa pada hari kiamat. Dikutip dari al-Qur’an Digital.

[2] perkataan biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya adalah sebagai sindiran kepada mereka, seakan-akan mereka dipandang sebagai kanak-kanak yang belum berakal.

About these ads

4 responses to this post.

  1. wah aku seneng banget ada temen yang mengkaitkan antara Al Qur’an dengan ilmu-ilmu lain, seperti semiotika. Tulisan ini saya rasa masih awal, dan perlu disemangati untuk yang lainnya. Atau di balik ilmu-ilmu yang ditemukan oleh manusia itu semua dikembalikan pada Al Qur’an, sehingga yang utama adalah Al Qur’an, baru temuan manusia, sehingga tidak ada kultus semiotika yang dari barat.
    semantara saya juga sedang mengkaji ilmu-ilmu itu, tetapi rencana saya akan membahasnya pada Al Qur’an. Mari berlomba siar Isam pada ilmu-ilmu barat, Insya Allah bermanfaat, amiin.

    Balas

    • Posted by ahamughny on April 30, 2010 at 06:57

      amin… memang masih terlalu awal, dan ttp brusaha mengkaji lagi..yg jelas semua yang ada di selruh alam tlah tersirat dalam al-Qur’an

      Balas

  2. [...] Analisis Ayat-ayat Takdir dalam Semiotik Saussure April 2010 2 comments 5 [...]

    Balas

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: