Kepenatan Tingkat Tinggi

من علامة الاعتماد على العمل # نقصان الرجاء عند وجود الزلل

(Min ‘alaamatil I’timaadi ‘alal ‘amali##nuqshoonur rojaa’I ‘inda wujuudiz zilali)

Artinya : Termasuk tanda-tandanya orang yang ketergantungan (al-I’timaad) didalam pekerjaan   adalah hilangnya  harapan ketika adanya  kesalahan—Ibnu ‘Athoo’illah As-Sakandary dalam kitab Al-Hikam—.

Oh Allah! Sungguh aku sedang bingung dan bimbang. Dengan serentak, seakan keadaan dunia sekeliling seperti telah menuntutku agar menghasilkan uang atau setidaknya aku harus bekerja. Padahal Engkau tahu sendiri bukan bahwa Kau telah membuat pola pikirku seperti ini: Continue reading

2010 in review

The stats helper monkeys at WordPress.com mulled over how this blog did in 2010, and here’s a high level summary of its overall blog health:

Healthy blog!

The Blog-Health-o-Meter™ reads Fresher than ever.

Crunchy numbers

Continue reading

Kata Pengantar

Alhamdu lillah, segala puji bagi Allah. Tuhan sekalian alam; Tuhan segala hal; Tiada kekuatan pun kecuali atas kehendak-Nya; Yang telah memberikan taufiq-Nya bagi penulis untuk merampungkan skripsi ribet ini; Yang mendorong Kajur seakan ngerjain penulis dengan menolak proposal hingga harus keempat kalinya; Yang mendorong mata penulis tertuju untuk membeli buku merah berjudul Ijtihad Islam Liberal; Yang mempertemukan penulis dengan dosen pembimbing setelah sempat hampir satu bulan tidak bisa bertemu; Yang selalu ‘menguji’ hambanya dengan ‘masalah-masalah’ sakit, kurang dana, jauhnya jarak, dan sebagainya. Oh, sungguh tiada sekutu satu pun bagi-Mu. Continue reading

Tuhan Pun Dikebiri

Liyasyhadu manâfi’a lahum wa yazkurû isma allah fî ayyâmin ma’lûmât ‘alâ mâ rozaqhum min bahîmat al-an’âm

Sebulan sudah gemerlap Piala Dunia 2010 berlangsung. Seperti biasa, gelaran empat tahunan yang cukup menarik perhatia tersebut menjadi pusat perhatian hamper seluruh insane di berbagai pejuru negeri, tak terkecuali di Indonesia. Acara tersebut bagaikan kongres akbar pemersatu lintas bangsa. Pada hari-hari awal penyelenggaraannya, terlihat di hadapan penlis yang sedang melintasi jalanan kota Jakarta, mulai dari Ciputat—Pasar Rebo—Kp. Rambutan hingga Cikarang sebuah pemandangan yang cukup memberikan image positive bagi penulis. Sebuah pemandangan yang tampak lain dari pada hari-hari sebelmnya. Bila biasanya, penulis melihat wajah suram para karyawan pabrik ataupun buruh pasar, pada saat itu muka-muka mereka tampak bahagia. Sejenak berpikir, penulis rasa mereka bersatu-padu menunggu pertandingan yang akan digelar pada malam harinya. Continue reading

Memaknai Lafadz Takdir Berdasarkan Semiotik Roland Barthes

Dari beberapa tokoh semiotik, kiranya memang Roland Barthes-lah yang terlihat lengkap dalam mengungkapkan apa yang terpancar dari proses pemikiriran tentang suatu petanda dibanding tokoh-tokoh lainnya seperti Saussure yang terkesan hanya menggambarkan tentang keterkaitan antara tiga unsur dalam proses pemikiran; dan Pierce yang justru menggambarkan tentang keterkaitan hasil suatu interpretasi dengan interpreter selanjutnya dan iluminasi-iluminasi seterusnya. Oleh karena itulah penulis di sini berusaha ingin mencontohkan lebih dalam tentang teori yang dikembangkan oleh Roland Barthes tersebut. Continue reading

‘Kehendak’ dan ‘Keinginan’

…وَهُوَ مَعَكُم أيْنَما كُنتُم…

Kira-kira tiga tahun Sihendri belajar di bilik pesantren itu. Tahun pertama ia habiskan hari-harinya dengan hanya berdiam diri, seakan tak punya keinginan. Bagaimana tidak? Wong Kyainya aja ngajarinnya hanya kitab Tanwîr al-Qulûb, Marh Lubaid, Sullam al-Taufîq, ataupun kitab-kitab fiqh ortodoks lain yang mensakralkan segala bentuk simbol. Ditambah lagi penguasa saat-saat itu memang telah dikenal dengan kediktatorannya, kesewenang-wenangannya, dan juga kharismanya yang mampu mencipta image seakan penguasalah yang selalu terbaik dan tak tersentuh. Suatu keadaan lingkungan yang membuat pola pikir Sihendri semakin tertutup. Seakan ia tak berkeinginan, tak ada obsesi, tak ada cita, bahkan keindahan senandung lagu-lagu penggugah jiwa pun dianggapnya adalah dari setan sebagai maksiat telinga. Selain Talk Less, Do-nya juga ikut Less. Ia hanya menunggu titah, menunggu kehendak yang dijanjikan Dzat yang katanya Maha Berkehendak. Continue reading

Teologi Pembebasan Farid Esack

Latar belakang ataupun cakrawala sejarah dari penulis atau penafsir sebuah teks menjadi salah satu faktor yang banyak diperhitungkan oleh para sarjana peneliti  tafsir hadis zaman sekarang. Tak bisa dipungkiri  memang setiap makhluk di dunia ini ‘dipaksa’ beradaptasi dengan lingkungan dan sebaliknya, kondisi sekitar—baik alam maupun makhluk hidup lain—kental membentuk karakter dan mewarnai pola pikir makhluk tersebut. Begitu juga apa yang terjadi terhadap Farid Esack, ia tentu membawa gagasan-gagasan yang diwarnai sejarah personal, sosial, dan ideologinya, hingga ia senantiasa mudah tersentuh melihat kapasitas manusia yang seolah tak habis-habisnya untuk menimbulkan ketidakadilan bagi pihak ‘lain’, baik agama, ras, atau pun jenis kelamin. Continue reading

SALAM

Sang jagoan, tegap menantang

Mendudukkan langit,

Meninggikan lautan

Berujar lantang

Akulah Aku!

Sang mentari trus berlalu

Meratakan lawan bak menyapu

Kenapa tak kau rusak saja dirimu

Padahal badanmu sudah tramat bau

Si dungu beramal tak kenal lelah

Dikiranya solihah, bagaikan lebah

Membiarkan keadaan tetap berubah

Oh demi dzat!!!

Yang jiwaku dikuasai itu dzat

Ku tak tahu siapa kan selamat

Hadis Sohih Yang Tidak Diamalkan: Hadis Menyusui Laki-laki Dewasa[1]

Memahami makna dari suatu matan hadis relatif tidak mudah. Sehingga membutuhkan keseriusan untuk menganalisanya, hadis yang merupakan redaksi berita dari empat belas abad yang silam kemudian dibawa oleh rangkaian orang pembawa berita (rawî) yang sangat panjang dari satu generasi ke generasi sangat memungkinkan adanya kesalahan, ini disebabkan ditolelirnya meriwayatkan hadis asal mempertahankan inti konsep (riwâyah bi al-ma’na) telah menjadikan keragaman teks matan hadis.[2] Continue reading

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.